GAMBARAN
FAKTOR PENYEBAB KEJADIAN DIARE PADA BALITA
KABUPATEN
JEMBER TAHUN 2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda
adanya perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang cair dan frekuensi buang air
besar lebih dari biasanya (3 kali dalam sehari) (Masri,2004). Diare merupakan salah
satu permasalahan global yang memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang
tinggi terutama di Negara berkembang seperti di Indonesia. Penyakit diare erat hubunganya
dengan higienitas perorangan dan lingkungan yang buruk. Penyebaran penyakit diare
pada umumnya melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi (RirinAyuandani,
2010).
Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2004, diare menjadi
penyebab 1,5 juta kematian anak di dunia, 80% dari kasus tersebut adalah anak
yang berusia dibawah dua tahun (Ririn Ayuandani, 2010 ). Hasil (Riskesdas) 2010 menunjukkan prosentase yang cukup mencengangkan,
dalam sehari ada sekitar 460 balita meninggal karena diare. Angka
kejadian diare di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi.
Indonesia pun menjadi salah satu negara dengan tingkat kejadian diare yang
cukup tinggi. Kepala Sub Direktorat Jenderal Diare Depkes, mengatakan bahwa hasil
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 menunjukkan angka kematian akibat
diare adalah 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita adalah 75 per 100 ribu balita.
Selama tahun 2006 sebanyak 41 Kabupaten di 16 Provinsi melaporkan KLB (kejadian
luar biasa) diare di wilayahnya. Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak
10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian.
Berdasarkan data diatas dapat
diketahui bahwa diare mempunyai prevalensi yang sangat tinggi dan mempunyai
andil yang besar dalam meningkatkan angka kematian balita di Indonesia. Faktor
yang mempengaruhi kejadian diare, antara lain yang paling sering adalah: ketersediaan
air bersih, sanitasi buruk dan perilaku hidup
tidak sehat, sedangkan secara klinis dapat disebabkan oleh infeksi, malabsorbsi,
makanan, dan psikologis (Piogoma,2008). Berdasarkan studi basic
human services (BHS) di Indonesia tahun 2006, perilaku masyarakat dalam mencuci
tangan adalah sebaiknya dilakukan : setelah buang air besar 12 %, setelah membersihkan
bayi dan balita 9 %, sebelum makan 14 %, sebelum membersihkan makanan bayi 7%,
dan sebelum menyiapkan makanan 6%. Sementara studi BHS lainnya terhadap perilaku
pengelolaan air minum rumah tangga menunjukkan 99,20% merebus air untuk mendapatkan air minum,
tetapi 47,5% ini tersebut masih mengandung Eschericia Coli (Kepmenkes No
852/Menkes/SK/IX/2008).
Tingginya angka kejadian diare
berdampak terhadap tumbuh kembang balita yang pada akhirnya dapat menurunkan
kualitas hidup anak. Diare sampai saat ini belum mencapai tujuan
yang diharapkan, karena kejadian penyakit diare masih belum menurun. Sedangkan
pemerintah telah melaksanakan upaya untuk mengatasi atau mengurangi insidensi
penyakit diare dengan berbagai program kesehatan seperti promosi kesehatan
melalui media massa, program Promosi Kesehatan dan Usaha Kesehatan Berbasis
Masyarakat (UKBM), Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Pos Pelayanan
Terpadu (Posyandu), Desa Siaga dan penyuluhan kesehatan yang dilakukan
perorangan oleh kader kesehatan dan petugas kesehatan baik dokter, bidan, dan
ahli.
Berdasarkan fenomena diatas, masih
tingginya kejadian diare yang bisa berdampak pada dehidrasi, hipoglikemia,
gangguan gizi, sirkulasi darah, syok hipovolemik, asidosis bahkan kematian. Hal
ini merupakan masalah penting yang bisa menyebabkan peningkatan angka
morbiditas dan mortalitas pada balita. Atas dasar hal tersebut dan juga belum
dilakukan penelitian, maka peneliti merasa tertarik untuk mengangkat masalah tersebut
kedalam sebuah Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ Gambaran faktor penyebab kejadian
diare pada balita usia 1 – 5 tahun di Puskesmas Bangsalsari Kabupaten Jember tahun
2013 ‘’.
1.1
Rumusan masalah
Bagaimanakah
gambaran faktor penyebab kejadian diare pada
balita usia 1-5 tahun di Puskesmas
Bangsalsari Kabupaten Jember tahun 2013?
1.2 Tujuan Penelitian
1.3.1TujuanUmum
Mengetahui faktor penyebab kejadian diare pada balita usia
1-5 tahun di Desa Bangsalsari Kecamatan Bangsalsari
Kabupaten Jember Tahun 2013.
1.3.2
Tujuan Khusus
Adapun tujuan
khusus dalam penelitian ini adalah untuk :
1. Mengidentifikasi
karakteristik ibu balita usia 1-5 tahun di Puskesmas Bangsalsari Kabupaten
Jember Tahun 2013 meliputi umur dan sosial ekonomi.
2. Mengidentifikasi
penyebab kejadian diare berdasarkan faktor perilaku pengasuh balita pada balita
usia 1-5 tahun di Puskesmas Bangsalsari
Kabupaten Jember Tahun 2013.
3. Mengidentifikasi
penyebab kejadian diare berdasarkan faktor saniatsi lingkungan pada balita usia
1-5 tahun di Puskesmas Bangsalsari
Kabupaten Jember Tahun 2013.
1.4
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1.4.1
Bagi Responden
Diharapkan hasil penelitian ini dapat
menambah pengetahuan dan pemahaman faktor penyebab kejadian diare pada balita usia
1 – 5 tahun.
1.4.2 Bagi Peneliti
Untuk mendapat informasi tentang faktor penyebab kejadian diare
pada balita usia 1- 5 tahun.
1.4.3
Bagi tenaga kesehatan
Memberikan gambaran tentang pengetahuan dan informasi
untuk mengetahui faktor penyebab kejadian diare pada balita usia 1 – 5 tahun.
1.4.4
Institusi Pendidikan
Sebagai sumber referensi, sumber baacaan dan bahan pengarah terkait
faktor penyebab kejadian diare pada balita usia 1 – 5 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar